Cara mengatasi anak teriak ketika main game menjadi tantangan tersendiri bagi orang tua di era digital seperti sekarang. Jujur saja, melihat anak yang biasanya manis dan penurut, berubah menjadi sosok yang ‘meledak-ledak’ hanya karena layar gadget memang membuat kita pusing tujuh keliling. Rasanya seperti ada tombol rahasia di dalam game itu yang memicu emosi anak sampai ke puncaknya, dan kita sebagai orang tu, tidak memegang kendali atas tombol tersebut.

Tapi tenang, Moms tidak sendirian. Fenomena anak berteriak saat bermain game online adalah isu global yang dihadapi banyak keluarga modern. Ini bukan tentang melarang mereka bermain, karena faktanya, game juga punya sisi positif, lho. Ini tentang mengajarkan mereka mengelola emosi di tengah tekanan dan kesenangan virtual. Ini adalah momen krusial untuk melatih kecerdasan emosional anak.
Kita harus bergerak cepat, bukan dengan marah, melainkan dengan pemahaman. Karena, di balik setiap teriakan itu, ada emosi yang belum terolah dengan baik. Ada kebutuhan yang tidak terungkap. Ada pelajaran yang harus kita berikan, tepat di momen mereka merasa paling rentan. Dalam tulisan ini, Edumaster akan menjabarkan 10 cara mengatasi anak teriak ketika main game yang dapat kamu terapkan mulai hari ini.
Daftar Isi
Toggle10 Cara Mengatasi Anak Teriak Ketika Main Game Online
Bagi orang tua yang merasa kewalahan, mempelajari cara mengatasi anak teriak ketika main game adalah langkah pertama untuk menciptakan lingkungan rumah yang lebih tenang. Momen bermain game seharusnya menjadi sumber kegembiraan, bukan pemicu gejolak emosi. Untuk menciptakan lingkungan digital yang sehat dan harmonis, berikut 10 cara mengatasi anak teriak ketika main game online yang dapat diterapkan.
Rancang Kesepakatan Bersama yang Jelas dan Terbuka
Banyak orang tua mencari cara mengatasi anak teriak ketika main game karena kebisingan ini sering mengganggu ketenangan di rumah. Awal yang baik dimulai dengan komunikasi. Luangkan waktu untuk duduk bersama si kecil dan membicarakan kerangka bermain yang disepakati bersama. Bahas secara spesifik kapan waktu yang tepat untuk bermain, berapa lama durasinya, serta langkah-langkah yang akan diambil jika tanda-tanda kelelahan atau kefrustrasian mulai muncul. Proses melibatkan anak dalam penyusunan aturan ini membuatnya merasa dihargai dan memahami bahwa bermain game adalah aktivitas yang memiliki batasan, sama seperti kegiatan sehari-hari lainnya.


Kesepakatan dapat mencakup penentuan waktu mulai dan berhenti, serta komitmen untuk mengambil jeda sejenak ketika tubuh dan pikiran mulai menunjukkan sinyal kelelahan, seperti suara yang mulai meninggi atau napas yang menjadi lebih pendek. Dengan batasan yang terdefinisi dengan baik, anak belajar untuk mengenali momen kapan ia perlu melakukan “reset” perasaan, alih-alih menunggu emosinya meluap menjadi sebuah ledakan.
Manfaatkan Alarm sebagai Sinyal Transisi yang Efektif
Mengatur volume suara anak saat bermain game mungkin sulit, namun beberapa cara mengatasi anak teriak ketika main game ini terbukti efektif untuk dicoba. Perpindahan yang tiba-tiba dari dunia game kembali ke rutinitas seringkali memicu protes. Untuk mengatasinya, gunakan timer atau alarm sebagai penanda transisi yang objektif. Berikan pengingat bertahap, misalnya dengan menyampaikan, “Waktu bermain tinggal 15 menit lagi,” diikuti dengan, “5 menit menuju akhir sesi.” Pendekatan pemberitahuan berjenjang ini mempersiapkan mental anak bahwa waktu bersantainya hampir berakhir.
Dengan adanya sinyal yang konsisten dan dapat diprediksi, akhir sesi bermain tidak lagi terasa seperti sebuah interupsi yang mendadak. Anak memiliki waktu yang cukup untuk menyelesaikan aktivitas dalam game dan mempersiapkan diri secara mental untuk beralih ke kegiatan lainnya, sehingga mengurangi potensi timbulnya resistensi atau kekecewaan.
Integrasikan Jeda Pendek ke Dalam Sesi Bermain
Game online didesain untuk membuat pemainnya tetap terlibat dalam waktu lama, seringkali tanpa diselingi pergerakan fisik. Padahal, para ahli menekankan pentingnya memasukkan istirahat singkat secara berkala ke dalam sesi bermain. Anjurkan untuk melakukan jeda setidaknya setiap satu jam, di mana anak dapat berdiri dari kursi, meregangkan tubuh, mengambil beberapa napas dalam, atau sekadar memandang ke kejauhan untuk mengistirahatkan mata.
Jeda singkat ini berfungsi menurunkan tingkat stimulasi pada sistem saraf dan otot yang tegang. Ketika anak kembali melanjutkan permainan, pikiran dan tubuhnya terasa lebih segar, yang pada akhirnya membantu emosi tetap berada dalam kendali yang lebih baik sepanjang sesi berlangsung.
Lakukan Kurasi pada Jenis dan Tingkat Kesulitan Game
Bagi orang tua yang merasa kewalahan, mempelajari cara mengatasi anak teriak ketika main game adalah langkah pertama untuk menciptakan lingkungan rumah yang lebih tenang. Setiap game memiliki karakteristik yang berbeda dalam hal potensinya memicu respons emosional. Game dengan tempo cepat, persaingan ketat, atau mekanisme yang menuntut presisi tinggi dapat lebih mudah memunculkan perasaan frustrasi. Oleh karena itu, penting untuk memilih game yang sesuai dengan tingkat usia dan perkembangan emosional anak, serta menghindari game yang secara konstan menciptakan perasaan gagal berulang.

Jika anak memilih game yang memang memiliki tingkat tantangan tinggi, bantu ia untuk membangun perspektif yang sehat. Tekankan bahwa kekalahan adalah bagian tak terpisahkan dari proses belajar dan bermain. Berikan apresiasi atas usahanya untuk mencoba lagi, alih-alih hanya berfokus pada hasil akhir kemenangan.
Jadikan Refleksi Pasca-Bermain sebagai Ritual Berharga
Setelah waktu bermain usai, ciptakan kebiasaan untuk mengobrol santai tentang pengalamannya. Ajukan pertanyaan terbuka seperti, “Bagaimana perasaanmu selama bermain tadi?” atau “Adakah momen yang membuatmu merasa sangat senang atau justru sedikit kesal?” Dialog semacam ini melatih anak untuk mengidentifikasi dan memberi nama pada emosi yang dirasakannya.
Ketika anak mulai mampu mengenali polanya sendiri, misalnya dengan berkata, “Aku biasanya jadi kesal setiap kali gagal di level yang sama,” orang tua dapat bersama-sama mencari strategi. Misalnya, merencanakan untuk mengambil napas panjang atau jeda minum air putih saat situasi serupa terulang di kesempatan bermain berikutnya.
Perkenalkan Teknik Sederhana untuk Merespons Frustrasi
Ledakan emosi selama bermain seringkali terjadi karena kurangnya perbendaharaan cara untuk mengelola kekecewaan. Memperkenalkan teknik pengendalian emosi yang praktis dapat menjadi alat yang sangat berharga. Contohnya, ajari anak untuk berhenti sejenak selama 30 detik dan menarik napas dalam beberapa kali ketika mulai merasa tidak nyaman. Gantikan kalimat negatif seperti “Aku pasti tidak bisa” dengan afirmasi yang membangun seperti “Aku akan coba sekali lagi.”
Mengalihkan fokus sesaat ke aktivitas sederhana, seperti berdiri dan meraih segelas air atau melihat pemandangan di luar jendela, juga dapat membantu menurunkan tensi emosi. Dengan latihan yang konsisten, anak akan semakin terampil ‘menghentikan’ dirinya sendiri sebelum emosi memuncak.
Ciptakan Lingkungan Fisik yang Mendukung Ketenangan
Lingkungan sekitar turut berperan besar dalam mengatur suasana hati. Pastikan area bermain memiliki pencahayaan yang memadai (tidak terlalu gelap atau silau), sirkulasi udara yang baik, dan kursi yang nyaman untuk postur tubuh. Untuk anak yang lebih kecil, disarankan agar perangkat game tidak diletakkan di ruangan tertutup yang terisolasi.

Menempatkan aktivitas gaming di area yang masih dapat terpantau tanpa harus terus-menerus mengintervensi memudahkan orang tua untuk mendeteksi tanda-tanda awal kelelahan atau frustrasi pada anak. Lingkungan yang dirancang dengan baik akan membuat anak merasa lebih nyaman dan aman.
Terapkan Konsekuensi yang Logis dan Konsisten
Cara mengatasi anak teriak ketika main game dimulai dengan memahami alasan di balik perilaku tersebut, lalu mengambil langkah-langkah yang tepat. Konsistensi adalah kunci dari setiap kesepakatan. Jika aturan yang telah dibuat bersama dilanggar misalnya dengan munculnya teriakan atau ledakan emosi tanpa upaya untuk menenangkan diri, maka konsekuensi yang telah disepakati sebelumnya perlu diterapkan. Penting untuk menyampaikan konsekuensi ini dengan sikap pengertian, bukan sebagai hukuman yang keras, melainkan sebagai dampak logis dari sebuah tindakan.
Konsistensi ini membangun pemahaman yang jelas pada anak bahwa setiap pilihan memiliki konsekuensinya sendiri. Ia akan belajar bahwa menjaga emosi tetap stabil adalah bagian dari tanggung jawabnya saat bermain game.
Sediakan Opsi Aktivitas yang Menenangkan sebagai Transisi
Teriakan bisa jadi merupakan akumulasi dari energi tinggi dan stimulasi berlebihan. Untuk membantu sistem sarafnya kembali ke kondisi tenang, siapkan aktivitas alternatif yang menenangkan setelah sesi bermain berakhir. Tawarkan kegiatan seperti berjalan kaki ringan di sekitar rumah, menggambar, membaca buku cerita favorit, atau bermain dengan mainan fisik.
Kegiatan transisi ini bertujuan untuk memberikan “jembatan” yang lembut dari dunia digital yang serba cepat menuju kenyataan yang lebih tenang. Hal ini tidak hanya membantu menstabilkan emosi, tetapi juga mendorong keseimbangan yang sehat antara kehidupan online dan offline.
Jadikan Rumah sebagai Contoh Nyata Pengelolaan Emosi
Anak adalah peniru ulung yang paling baik belajar melalui contoh nyata. Perilaku orang tua dalam menghadapi situasi menegangkan atau frustrasi termasuk yang berkaitan dengan perangkat digital sehingga menjadi acuan baginya. Tunjukkan bagaimana cara mengatasi kekecewaan ketika internet tiba-tiba lambat atau aplikasi mengalami error dengan berkata, “Saya akan istirahat sebentar dan mencobanya lagi nanti,” alih-alih bereaksi dengan emosi.
Dengan membangun budaya pengendalian diri dan ketenangan di rumah, anak akan menginternalisasi nilai-nilai tersebut. Ia belajar bahwa mengelola emosi, baik di dunia nyata maupun digital, adalah keterampilan hidup yang penting dan dapat dikuasai.

Dengan menerapkan cara mengatasi anak teriak ketika main game ini secara konsisten, orang tua dapat menciptakan kebiasaan bermain game yang lebih tenang, kamu memfasilitasi perubahan nyata bukan hanya “melarang”. Perlu diingat yang dibutuhkan bukan satu malam perubahan, tapi konsistensi kecil setiap hari. Semoga artikel ini bisa menjadi panduan yang membantu Moms dalam perjalanan sebagai orang tua yang mendampingi anak bermain game online dengan bahagia dan terkendali.
Setelah menyimak berbagai cara mengatasi anak teriak ketika main game, kini saatnya kita bertindak. Jangan biarkan kebiasaan ini terus berlanjut dan mengganggu keharmonisan keluarga. Langkah-langkah yang telah dibahas memerlukan konsistensi dan dukungan penuh dari orang tua. Namun, kita semua paham, sebagai orang tua yang sibuk, memberikan pendampingan intensif setiap saat bukanlah hal yang mudah.
Di sinilah peran pendampingan akademis yang tepat bisa menjadi solusi yang kamu butuhkan. Dengan mengisi waktu luang anak dengan aktivitas yang positif dan menantang, seperti belajar dengan metode yang menyenangkan, energi dan fokusnya dapat dialihkan secara lebih seimbang. Bimbingan Les Privat SD dari Edumaster hadir selain untuk meningkatkan nilai akademis, juga untuk membentuk karakter dan manajemen emosi anak. Tutor kami yang berpengalaman mengajar, juga dapat menjadi mentor yang memahami dunia anak.
Jangan tunda lagi untuk memberikan yang terbaik bagi buah hatimu. Ubah kekhawatiran kamu menjadi langkah nyata dengan memberikan lingkungan belajar yang mendukung. Les privat Edumaster dirancang khusus untuk menjawab tantangan orang tua modern dalam mendidik anak di era digital.
Kunjungi edumasterprivat.com sekarang juga! Dapatkan konsultasi gratis dan temukan paket belajar yang paling cocok untuk kebutuhan unik anakmu. Bersama kami, wujudkan generasi yang cerdas akademis dan matang secara emosional.


